Kamis, 01 November 2012

Bahagia Dengan Tasawuf


MENGGAPAI KEBAHAGIAAN SEJATI
 MELALUI TASAWUF

Tiada yang dicari oleh manusia bahkan semua makhluk kecuali KEBAHAGIAAN, kebahagiaan itulah tujuan dari segala tujuan, tujuan yang tidak punya tujuan lagi, dengan kata lain tujuan yang terakhir.
Makna kebahagiaan yang sejati adalah kebahagian yang langgeng dialam malakut, menyaksikan cahaya “kehadiran” Tuhan yang Maha suci, menikmati keindahan ilahi nan Mahaluhur, dan melihat langsung pancaran “cahaya suci” yang amat mengagumkan. Kebahagiaan ini tidakakan didapat kecuali oleh jiwa yang bersih. Yaitu jiwa yang telah mendapatkan inayah rabbaniyah (pertolongan/bimbingan Tuhan) sehingga dengan mudah tergerak untuk menempuh jalan-jalan ilmu dan amal, terdorong untuk meraih cinta yang hakiki, dan selalu merindukan cahaya-cahaya ilahiyah. Dengan diperolehnya kebahagiaan ini, jiwa yang suci akan merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dihati manusia. 
Kebahagiaan sejati hanya dapat diperoleh dengan hanya mencintai Yang Mahabenar sepenuh hati, tanpa menyekutukan cinta kepada selain-Nya. Dan kecintaan yang utuh hanya akan tercapai dengan mengetahui kesempurnaan zat yang dicintai dan keindahan-Nya. Siapa yang tidak mengenal-Nya tidak akan mencintai-Nya. Manakala Zat  yang dicintai dengan sifat-sifat-Nya yang teramat indah diketahui hakikatnya secara sempurna, niscaya hati yang penuh cinta akan tumbuh padadiri orang yang mengetahui sifat-sifat-Nya secara sempurna itu.

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingannya selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…” (QS.al-baqoroh :165)

“Maka sesungguhnya, bukanlah matanya yang buta, tetapi (mata) hati yang berada di ronga dadanya” (QS. Al-Haj : 46)
“Dan barang siapa yang buta (hatinya) didunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesatdari jalan (yang benar)” (QS. Al-Isro’ ;72)
“Mula-mula beragama adalah makrifat(mengenal) kepada Allah” (al-Hadist)

Para ‘Arif Billah berkata dengan jujur serta tulus hatinya :
“Kami selalu merasakan kenikmatan dan kelezatan yang sama sekali tidak pernah dirasakan oleh para raja dan penguasa dunia.Andaikata mereka tahu, pasti mereka rampas semua kenikmatan itu dari kami, lalu mereka singkirkan kami”.
Kenikmatan yang dimaksud adalah “kasyaf”, terbuka tirai penutup segala sesuatu, yang tampak hanyalah Ke-Esa-an, Ke-Agung-an, Ke-Indah-an, Ke-perkasaan dan Ke-Sempurna-an seluruh Asma dan Sifat Allah Jalla Jalaluhu.

Langkah awal yang harus dilakukan orang yang sedang meniti jalan cinta  adalah mengamati wujud semesta, mencurahkan fikiran tentang ciptaan-ciptaan Tuhan dan Keajaiban-keajaiban karya Rabbani yang kesemuanya itu menunjukan akan kesempurnaan Penciptanya, Ke-Agung-an, Ke-Indah-an dan  Ke-perkasaan. Maka inilah yang dinamakan pintu makrifat.

Apabila jiwa yang bersih dan lurus benar-benar merenungkan hakikat diri manusia dengan segala kandungannya, mengambil pelajaran darinya, menyaksikan berbagai keajaiban hikmah yang dikandungnya dari semua sisi dan aspeknya, dan mengetahui seluruh seluk beluknya hingga bagian-bagiannya yang terkecil, maka ia (jiwa) akan menjadi lembut serta merasakan nikmatnya pengetahuan tentang wujud dan keagungan Tuhan. Jiwa juga akan merasakan bahwa kenikmatan irfani ini jauh lebih besar daripada kenikmatan fisik material dan kecenderungan-kecenderungan hewaniyah. Ketika jiwa sudahmerasakan kelembutan, kenikmatan dan pengetahuan irfani ini maka ia akan berusaha untuk mencapai kesempurnaan dalam kenikmatan dan pengetahuan itu.

Semakin lembut keadaan jiwa maka ia akan semakin merindukan keindahan. Bahkanpada gilirannya ia akan takhluk, tunduk dan menyerah pada keindahan. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair :

Betapa banyak cinta takhlukan jiwa yang tegar
Dihadapan cinta ketegaran jiwa luluh  tak berdaya
Jika kau renungkan, ketundukan jiwa terhadap cinta
Adalah sesuatu yang mengagumkan

Bagaimanakah dan apakah ilmu agar mendapatkan Kebahagiaan sejati?
Yaitu ilmu tasawuf.Kenapa demikian?Karena dalam hati manusia masih diliputi hawa nafsu dan ananiyah(keakuan/ego).Jiwa yang dipenuhi hawa nafsu harus disucikan.Ilmu tasawuf mengajarkan jalan untuk mensucikan jiwa tersebut.

Pengendalian hawa nafsu tidak cukup hanya melalui pengamalan syari’at semata (kewajiban mengamalkan hukum-hukum islam), namun diperlukan mujahadah dan riyadhoh atau disiplin berthoriqot (Q.S. al-Jin: 16) Sedangkan untuk berthoriqot  diperlukan pemahaman dan penghayatan ilmu tasawuf yang benar, sebagaimana  yang diajarkan oleh Rosulallah Saw. Dan para pewaris beliau yaitu para sahabat dan segenap para wali-wali Allah Swt. Jadi agar manusia itu bahagia, maka jiwa harus dibersihkan (tazkiyatun nafs) sehingga  berbuahqolbun salim (hati yang selamat), dan tathirul qulub melalui disiplin thoriqot, dan  untuk itu diperlukan landasan ilmu tashawuf yang benar.

Bagaimanakah mendalami ilmu tasawuf yang benar?
Diperlukan seorang guru yang dapat memberikan petunjuk dan arahan (mursyid). Ilmu tasawuf adalah ilmu tentang penyucian jiwa yang bertujuan mendapatkan cinta dan pengenalan (makrifat) pada Tuhan sehingga tidak cukup dengan hanyamebaca literatur dari buku-buku bacaan, diperlukan hubungan batin/ruhiyyah dengan seorang pembimbing, pembimbing yang baik ialah pembimbing yang sudah mempunyai keshalehan, ber-akhlak mulia serta suci dari hal-hal yang berhubungan dengan keduniawiaan.

Rosulallah SAW bersabda :
“Barang siapa yang ingin menjumpai Allah, Allah-pun ingin menjumpainya. Dan barang siapa yang tidak ingin menjumpai Allah, maka Allah-pun tidak ada berkeinginan menjumpainya”
(HR. Ahmad, Bukhori, Muslim, Turmudzi, dan Nasa’i. Rodhiyallahu’anhum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar